Agus Koran, Agus Telor, dan Agus Bakso

Oleh: Iman Supriyono, Konsultan senior pada SNF Consulting*

Agus siapa? Itulah pertanyaan kepada anak saya yang menyampaikan bahwa barusan ada telepon untuk saya saat saya sholat isya di masjid dekat rumah. Pertanyaan seperti ini penting karena saya mengenal belasan bahkan puluhan Agus. Ada Agus Kafe, Agus Kontraktor, Agus Guru Pesantren, Agus Guru Les, Agus Air Kemasan, Agus Dosen, Agus Foto, Agus Pemkot, Agus YDSF, Agus Wartawan, dan Agus-Agus lainnya. Menarik sekali. Ternyata, nama saja tidak cukup untuk identitas seseorang. Perlu “embel-embel” yang spesifik. Maka, nanti akan ada Agus Tahu, Agus Tempe, Agus Handphone, Agus Kertas, Agus Buku, Agus Kulit, Agus Kacang, Agus Ikan, Agus Kepiting, Agus Bakso, Agus Soto, Agus Koran, Agus Bengkel Motor, Agus Sate, Agus Tukang, Agus Telor, dan sebagainya. Semuanya untuk membedakan dan memberi identitas terhadap seseorang.

Di Barat, “embel-embel” ini menjadi nama resmi seseorang. Ada Bill Smith karena ia berasal dari keluarga smith alias pandai besi. Ada Bill Shoemaker karena ia berasal dari keluarga pembuat sepatu. Ada Bill Taylor karena ia berasal dari keluarga penjahit. Ada Bill Carpenter karena berasal dari keluarga tukang kayu. Ada Bill-Bill yang lain dengan identitas yang berbeda-beda.

Pembaca yang budiman, dalam dunia bisnis identitas yang menempel di belakang nama seseorang menjadi sebuah jati diri yang sangat penting. Identitas ini akan menjadi alat promosi gratis. Jika dibelakang nama Anda telah mendapatkan tempelan identitas ini, Anda akan makin dikenal. Dikenal sebagai orang yang makin ahli di bidang bisnis yang Anda geluti.

Begitu penting. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana untuk memperoleh identitas ini? Catat baik-baik. Seseorang hanya akan mendapatkan satu identitas saja. Artinya, Anda tidak akan mendapatkan identitas seperti ini bila Anda berbisnis dengan berbagai macam bidang. Anda tidak akan mendapatkan identitas “Bakso” kalau ternyata disamping memiliki restoran bakso Anda juga memiliki toko kelontong, agen koran, memiliki bengkel sepeda motor dan sebagainya. “Lho, kalau begitu apakah berarti saya harus meninggalkan berbagai bisnis yang saya miliki dan kemudian hanya memilih salah satu saja?” Inilah pertanyaan yang saya yakin menghantui Anda.

Betul! Anda memang harus memilih. Dasarnya tidak hanya sekedar logika atau kisah yang berbau lelucon seperti yang saya tulis di atas. Dasarnya sangat mantap: fakta empiris dan statistik. Coba bukalah situs Forbes, majalah yang tiap tahun rajin memberikan peringkat kepada para praktisis bisnis terkaya di dunia. Awal tahun 2007 ini, Forbes mencatat bahwa dari 100 orang terkaya di dunia, 90 orang diantaranya adalah mereka yang berbisnis satu bidang saja (fokus), 7 orang berbisnis 2 atau tiga bidang, 3 orang bermacam-macam bidang. Yang dicatat pada urutan teratas adalah si Bill “Microsoft” Gates yang berbisnis software. Ia hanya berbisnis khusus sosffware windows- office. Masih banyak software lain yang tidak dikerjakannya dan diambil orang lain. Inilah yang mampu mendatangkan pundi pundi 56 Milyar Dolar Amerika alias sekitar 500 Trilyun Rupiah. Angka yang bila didepositokan di bank syariah saja bagi hasilnya mencapai Rp 2,3 Trilyun perbulan.

Urutan ke-5 terkaya adalah orang yang merintis bisnisnya di di sebuah gang sempit di Waru dengan Ispatindo-nya. Si Laksmi Mittal yang hanya berbisnis Baja. Cukup baja saja untuk kekayaan yang nilai bersihnya mencapai sekitar Rp 300 trilyun. Jauh lebih kaya dari pada kekayaan bersih pemerintah Indonesia. Kini saatnya untuk fokus. Anda siap?

Iman Supriyono ( imansupri@snfconsulting.com )

Managing partner SNF Consulting

*tulisan ini pernah dimuat majalah Matan, terbit di surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published.