Flamboyan

Oleh: Iman Supriyono, Konsultan senior pada SNF Consulting*

Mataram bulan-bulan begini tampak istimewa. Bukan karena sesuatu yang besar. Bukan karena gedung gedung tinggi pencakar langit seperti Kuala Lumpur. Bukan pula karena transportasi publik yang luar biasa seperti Singapura. Kotanya tidak terlalu besar. Tentu tidak terbebani oleh kemacetan akut seperti Jakarta. Juga tidak pula oleh ruwetnya penataan pedagang kaki lima seperti Surabaya.

Apa keistimewaannya? Keistimewaan itu datang dari pohon pohon yang pada awal awal musim penghujan ini berhias warna merah menyala. Flamboyan. Tanaman yang pada awal musim pengujan seperti ini akan dipenuhi bunga warna merah menyala hampir di sekujur dahan rantingnya.

Flamboyan memang istimewa di musim hujan. Merah merona penuh kindahan. bagaimana di musim kemarau? Kebalikannya. Flamboyan akan kehilangan seluruh pesona merahnya. Tinggal hijau dedaunannya? Tidak. Bahkan nyaris seluruh daunnya akan gugur pada musim kemarau. Menyisakan batang gersang tak sedap dipandang mata.

Lalu bagaimana Mataram di musim kemarau? Ketidakindahan flamboyan saat kemarau tiba tertutup oleh keindahan pepohonan lain. Pepohonan yang pada musim penghujan pamornya kalah jauh tertutup keindahan flamboyan. Pepohonan yang saat kemarau tidak berkurang keindahannya sedikitpun. Tetap hijau mempesona baik pada musim kemarau maupun pada musim penghujan. Tidak naik pesonanya pada musim hujan. Tidak pula turun pesonanya pada musim kemarau.

Maka…..flamboyan dan pepohonan lain di Mataram telah membentuk sebuah ritme tersendiri. Ritme saling menutupi. Ritme sinergi. Sebuah kondisi yang dalam ranah investasi dikenal dengan nama portofolio. Jika flamboyan dan pepohonan lain saling menutupi dalam hal keindahan, portofolio saling menutupi dalam hal risiko investasi.

Jangan taruh telurmu pada satu keranjang. Itulah jargon yang sering digunakan untuk menggambarkan konsep portofolio investasi. Bila saja sebuah keranjang terjatuh, telur yang di keranjang lain tidak akan terusik sedikitpun. Keranjang yang jatuh memecahkan seluruh telur di dalamnya. Sementara itu semua telur di keranjang lain tetap aman. Tidak terpengaruh. Tepat sekali menjadi pedoman bagi Anda para investor.

Lain dunia investor, lain pula dunia pebisnis. Perusahaan perusahaan milik para investor dikelola oleh orang lain. Perusahaan-perusahaan milik para pebisnis dikerjakan sendiri. Maka doktrin para pebisnispun berbeda dengan para investor. Bahkan bertolak belakang. Taruh telurmu pada satu keranjang saja. Pekerjakan orang orang terbaik untuk mengawasinya. Bahu membahu mengawasinya. Ketat. Jangan lengah sedikitpun. Jangan lengah sedetikpun.

Maka, jangan heran, hanya sekitar 47 saja dari 2000 perusahaan terbesar dunia versi Forbes 2007 yang bergerak pada berbagai bidang alias Konglomerat. Hanya 2,15%. Sisanya, 97,85%, bergerak pada satu bidang saja. Satu bidang tapi beroperasi pada berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Mc Donald, KFC, Pizza Hut, Coca Cola, adalah beberapa contoh perusahaan yang bergerak pada satu bidang saja tapi meraksasa dan beroperasi di seluruh penjuru dunia. Fokus. Andaikan saja separuh negara di dunia dilanda perang, mereka tetap aman karena masih punya separuh gerai di negara negara yang tidak dilanda perang. Loh…jadi ibarat Mataram hanya ditanami flamboyan aja dong? Betul. Indah luar biasa pada musim penghujan. Saat kemarau? Merana total? Tidak. Karena tidak memiliki tanaman lain, maka seluruh potensi akan tercurahkan untuk riset riset canggih mutasi genetik. Hasilnya, flamboyan transgenetik yang justru berbunga merah menyala pada musim kemarau.

Saat krisis finansial seperti hari hari ini, akan sangat sulit mengelola perusahaan dengan bidang berbeda beda. Maka, biasanya para konglomeraat akan melego murah bisnis yang dianggap sulit dikendalikan. Pembelinya? Tentu saja mereka para pebisnis fokus yang sangat ahli dibidangnya. Tentu dengan harga super diskon. Inilah kelebihan para pebisnis fokus. Anda sudah merasakannya?

Iman Supriyono ( imansupri@snfconsulting.com )

Managing partner SNF Consulting

*Tulisan ini dimuat di majalah muzaki, terbit di surabaya, edisi pebruari 09

Leave a Reply

Your email address will not be published.