Waralaba Antarodin

Oleh: Iman Supriyono, Konsultan senior pada SNF Consulting

Surabaya Januari 2009. Sore itu saya senang sekali. Berbinar karena dua hal. Pertama karena menyantap menu klangenan. Pecel madiun adalah menu wajib sebelum berangkat sekolah di SD, SMP, dan SMA dahulu kala. Dua belas tahun tiada pagi tanpa pecel. Twelve years pecel only breakfast!

Kedua adalah karena sore itu saya bertemu dengan dua orang yang sangat menarik: satu seorang franchisee dan satunya lagi seorang yang sedang bersiap untuk menjadi franchisor. Terwaralaba dan pewaralaba.

Si franchisee, sebut saja Wati, selama ini adalah seorang karyawan sebuah BUMN. Kerja keras dan profesionalnya selama belasan tahun telah berbuah posisi yang cukup bagus. Ia dipercya menjadi salah satu kepala cabang BUMN sektor finansial yang sangat dikenal masyarakat itu. Tahun lalu Wati membeli hak waralaba sebuah warung bakso. Menjadi franchisee alias terwaralaba.

Semenatara itu, si franchisor, atau tepatnya calon franchisor, sebut saja Budi adalah bos pecel yang sore itu sedang saya nikmati. Saya sebut calon franchisor karena ia memang sedang bekerja keras untuk menambah cabang warung pecelnya. Cabang-cabang sukses adalah salah satu syarat wajib bagi sebuah perusahaan waralaba.

Waah…Pak Iman kan anti franchise! Itulah komentar Budi saat pertama kali saya memperkenalkan Wati kepadanya. Saya tersenym sambil menimpali bahwa saya bukan anti franchise. Saya anti penipuan. Termasuk penipuan melalui franchise.

Pembicaraan jadi sangat menarik karena keduanya adalah pelaku bisnis makanan. Saya picu keduanya untuk bisa mengeluarkan gagasan gagasan pentingnya. Tentu saja tentang waralaba makanan yang sedang mereka berdua tekuni. Pas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk tentang waralaba.

••••

Pembaca yang antusias, waralaba bukanlah sesuatu yang baru. Puluhan tahun lalu kita sudah kenal McD misalnya yang membuka outlet di kota kota besar tanah air. Bahkan saat ini penjual roti gapit (dua keping roti yang digapit alias burger) buka nonstop 24 jam. Tidak pernah tutup sepanjang hari sepanjang tahun.

Begitu populernya McD dan warung warung waralaba dari luar negeri lain, sampai muncul sebuah kecemburuan. Masak untuk makan roti gapit aja kita harus mendatangkan orang Amerika. Kecemburuan ini bahkan sering kali memuncak menjadi seruan boikot.

Akhir-akhir ini saya senang. Waralaba tidak hanya monopoli perusahaan perusahaan asal amerika atau asing lain. Sudah mulai muncul waralaba waralaba lokal. Bahkan bukan hanya satu dua. Banyak sekali merek merek lokal yang diwaralabakan. Outletnya pun tersebar dimana-mana.

Wati adalah salah satu pemainnya. Setelah sekian lama menjadi pegawai, keinginannya untuk memiliki usaha tidak terbendung. Uang yang yang dikumpulkan bertahun tahun dari gaji bersama suamipun dimanfaatkan untuk modal. Tidak kurang dari Rp 150 juta ditanamkan untuk bisnis warung bakso waralabanya. Ia membeli hak franchisee. Sebuah outlet bakso di kawasan cukup strategis di Surabaya pun berdiri.

Watipun menggebrak. Tidak tanggung tanggung. Tiga hari pertama siapapun digratiskan makan bakso di outlet waralabanya. Masyarakatpun berbondong bondong mencicipi. Ramai. Itulah yang diceritakan wati sambil menikmati pecel. Saya dan Budi menyimaknya dengan seksama.

Kisahnya pun berlanjut. Outlet pertama nampaknya tidak happy ending. Segala upaya yang dicurahkan untuk memperbaiki omset baksonya tidak mendapatkan respon yang menyenangkan dari pasar. Hari demi hari sering kali harus berkhir dengan kerugian. Maka, beberapa bulan setelah dibuka, Wati pun angkat tangan. Modal awal plus kerugian opersional beberapa bulan menelan tidak kurang dari Rp 170 juta. Rp 150 juta untuk modal awal, Rp 20 juta untuk nomboki kerugian operasional selama outlet buka.

Si franchisor alias pemilik merekpun berempati. Wati yang angkat tangan dengan outlet pertama masih diberi kesempatan mencoba lagi. Satu lagi outlet dibuka tidak jauh dari sebuah komplek perumahan perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Rp 30 juta tertanam untuk outlet kedua ini. Investasi jadi lebih murah karena banyak peralatan dari outlet pertama yang bisa dimanfaatkan untuk outlet ini. Franchisor membebaskan Wati dari pembayaran fee pembukaan outlet kedua ini. Bebas initial fee.

Wati pun punya kekutan baru. Lancarkah? Tidak semudah yang dibayangkan. Wati pun harus bekerja keras untuk mendongkrak omset. Hingga tulisan ini saya buat, wati bersama franchisor masih terus berkreasi untuk mendongkrak omset. Bekerja keras agar uang yang masuk dari penjualan bisa menutup seluruh kebutuhan operasional sehari hari. Bekerja keras untuk mempertahankan eksistensi.

••••

Pembaca yang antusias, untuk transaksi apapun, islam mensyaratkan antarodhin. Ridho sama ridho. Saling ridho. Antaradhin saat transaksi. Antarodhin sebulan setelah transaksi. Antarodhin setahun setelah transaksi. Antarodhin selamanya.

Demikian dalam transaksi sewa menyewa merek yang disebut franchise alias waralaba ini. Saat deal pembukaan outlet baksonya, wati jelas ridho. Transaksi terjadi karena wati ridho dengan harga yang diminta oleh franchisor. Franchisor juga ridho merek baksonya dipakai oleh wati dengan syarat tertentu.

Bagaimana ketika outlet pertama ternyata sepi dan hari hari wati meanggung rugi? Tentu dia kecewa. Ia tidak ridlo. Beruntunglah wati karena pemilik merek masih berempati. Wati membuka outlet kedua tanpa harus membayar initial fee lagi. Ia hanya wajib membayar sekian persen dari omset bulanan yang memang menjadi kewajibannya.

Setelah sekian bulan outlet kedua buka, masih rodlokah wati? Ia sedang bekerja keras untuk bertahan. Semoga sukses. Inilah yang akan membutnya ridlo. Tetapi, bagaimana kalau ternyata outlet kedua ini juga tidak kunjung membaik omsetnya dan dia kemudian angkat tangan lagi? Semoga ini tidak terjadi. Saya berdoa untuk itu. Tetapi, seandainya saja ia tidak kuat dan angkat tangan lagi, tentu berat rasanya untuk ridlo. Uang yang ditabung belasan tahun menguap begitu saja oleh sebuah bisnis yang menurut franchisor sangat menjanjikan.

Saya dan buti pun membesarkan hati Wati. Tidak ada sukses bisnis yang bisa diperoleh dengan instan. Saya ingatkan bahwa ia dipercaya menjadi pimpinan cabang setelah belasan tahun mengabdi. Itulah proses pembelajaran. Toh tidak semua karyawan yang seangkatan Wati sudah dipercaya menjadi pimpinan cabang. Banyak kawan kawannya yang sudah belasan tahun belum dipercaya menjadi pimpinan cabang. Demikian juga dalam bisnis. Butuh waktu panjang untuk proses pembelajaran. Itupun tidak sedikit yang gagal.

Budi yang raja pecel pun menceritakan proses panjangnya. Lebih dari 15 tahun dibutuhkan waktu untuk memiliki 4 outlet pecel madiunnya saat ini. Banyak outlet yang terpaksa ditutup tidak lama setelah dibuka. Sampai saat ini, hanya outlet pertama yang bisa beromset lebih dari Rp 5 juta perhari. Outlet lainnya? Masih sekedar bisa menutup biaya operasional. Ia telah kehilangan tidak kurang dari Rp 500 juta untuk yang telah ditutupnya. Budi tidak kapok. Ia terus mencoba dan mencoba lagi buka outlet baru. Toh uang itu semua adalah laba dari outlet pertamanya. Jadi sebenarnya tidak ada yang hilang.

Hingga kini Budi belum mewaralabakan outlet pecelnya. Masih proses persiapan. Saya acungi jempol untuk hal ini. Dalam pikiran budi, dibutuhkan 8 outlet dengan omset bagus setara dengan outlet pertamanya untuk berani membuka waralaba. Inilah yang bisa mejadi jaminan transaksi antarodlin dalam jangka panjang. Suka sama suka dalam jangka panjang.

Ada saja orang yang tidak berpikiran seperti Budi. Berbisnis waralaba tanpa memperhatikan antarodlin jangka panjang. Berbagai cara promosi ditempuh untuk membangun citra sebagai merek sukses. Pemilik modal pun berbondong bondong menjadi franchisee. Pemilik merekpun kaya raya dari initial fee. Penghargaan demi penghargaan dimanfaatkan untuk mendukung kampanyenya. Kenyataannya? Outlet demi outlet milik franchisee tutup karena sepi. Rugi. Kecewa. Tidak rodlo. Tidak antarodhin. Inilah yang harus dihindari dalam waralaba.

Pembaca yang dermawan, saya tidak sedang black campaign untuk waralaba. Justru sebaliknya. Saya ingin waralaba lokal bisa mengalahkan McD, Pizza Hut, KFC, Starbucks dan sebagainya. KFC misalnya, mewaralabakan bisnisnya setelah lebih dari 20 tahun sukes membuka outlet outletnya sendiri. Kita harus belajar seperti mereka. Tujuannya satu: antarodlin. Franchisor laba, franchisee laba. Jangka panjang. Anda sedang bersemangat dengan waralaba? Ayo!

Iman Supriyono ( imansupri@snfconsulting.com )

Managing partner SNF Consulting

Leave a Reply

Your email address will not be published.