Kaki Lembu Donggala – Bibir Surabaya

Oleh Iman Supriyono, Konsultan Manajemen pada SNF Consulting

Akhir tahun lalu saya ada tugas dari SNF Consulting, kantor saya, untuk datang ke PT Telkom Palu. Ini adalah kedatangan pertama saya ke ibukota propinsi Sulawesi Tengah ini. Pertanyaan saya kepada kawan-kawan Telkom yang menjemput di Bandara Mutiara pun klise: apa makanan yang khas Palu dan rasanya “mak nyuus”? Pertanyaan ini penting karena dua alasan. Pertama, disela sela acara resmi tentu ada jam makan atau jam santai yang bisa dipakai untuk wisata kuliner. Kedua, nama makanan khas bisa menjadi bumbu dan pencair suasana di forum-forum resmi yang akan saya lalui nantinya. Kaledo. Itulah nama makanan khas Palu yang mendengarkan ceritanya saja saya sudah penasaran. Kebetulan saya sangat menikmati makanan dengan model seperti yang diceritakan kawan dari Telkom Palu ini. Kaki lembu donggala (disingkat kaledo) dibumbu kuah bening mirip soup dihidangkan panas dengan pohong rebus. Kebayang deh nikmatnya. Dan….siang itu….begitu nempel di lidah…terbuktilah: kaledo memang nikmat. Mak…nyuusss. Makanan khas bagi sebuah kota adalah sebuah peluang bagi para investor dan pebisnis. Peluang yang bila ditangkap dengan keahlian yang memadai akan mendatangkan hasil yang luar biasa. Sekali lagi….variabel penentunya lebih pada keahlian yang memadai, bukan pada peluangnya itu sendiri. Pertanyaannya….bagaimana bisa menjadi orang yang ahli dalam menangkap peluang? Bagaimana menjadi investor (dengan menyediakan dana awal bisnis bagi sorang partner pebisnis) yang bisa menangkap peluang dengan berhasil? Bagaimana menjadi pebisnis (dengan mengerjakan sendiri) yang bisa menangkap peluang dengan sukses?

Saat menyelesaikan tulisan ini, saya sedang berada di sebuah masjid untuk beritikaf. Karena sudah puasa hari ke 26, mulailah muncul masalah teknis sederhana: sulit mencari makan sahur. Masjid hanya menyediakan buka puasa sehingga untuk makan sahur para mu’takif (orang yang beritikaf) harus mencari sendiri di warung sekitar.

Makin mendekati hari raya, satu demi satu penjual makanan di sekitar masjid mulai tutup. Ini adalah masalah bagi Anda yang pada bulan ramadhan sempat beritikaf sepuluh hari terakhir tanpa pulang ke rumah (sebagaimana yang dulu menjadi kebiasaan nabi). Namun demikian, ini juga sebuah fenomena yang menarik bagi Anda yang mulai melirik peluang untuk berbisnis makanan.

Pada hari hari sekitar hari fitri, para pedagang pada umumnya pulang mudik dan menutup warung atau restorannya. Sementara, untuk kota sebesar surabaya atau kota-kota besar lain, selalu saja ada banyak orang yang tidak mudik. Mereka sudah tidak memiliki kampung halaman. Maksud saya, kampung halamannya adalah surabaya sehingga tidak perlu mudik.

Lalu bagaimana kebutuhan makan mereka? Belanja bahan makanan seperti sayur atau ikan juga sudah sulit karena pedagangnya juga pada pulang mudik. Pembantu rumah tangga juga pada mudik. Sulit untuk masak sendiri.Naah…satu-satunya cara adalah membeli makanan siap santap di warung. Karena warungnya juga langka, maka akhirnya seadanya. Cita rasa dan harga tidak terlalu menjadi masalah. Yang penting makan.

Jadi…hari raya adalah momen yang tepat untuk mulai membuka warung atau restoran dengan memanfaatkan “kesempatan dalam kesempitan”. Orang yang pada masa hari raya “terpaksa” beli makanan Anda akan terpikat menjadi pelanggan setia bila menu Anda cocok dengan kebutuhan, selera dan kemampuan finansialnya.

Permasalahannnya….mungkin Anda membaca tulisan ini sudah terlambat. Hari raya telah berlalu. Tetapi tenanglah, ada dua saat terbaik uuntuk membangun sebuah warung atau restoran yang sukses: lima tahun lalu dan sekarang. Lima tahun lalu jelas sudah berlalu dan kesempatan Anda tinggal yang kedua: sekarang.

Lho, kan sekarang sudah lewat hari raya? Catat baik-baik. Para pembeli yang semula “terpaksa” membeli di warung Anda karena tidak ada alternatif lain akan bisa bertahan kalau memang menu Anda bagus. Sementara itu, membuat menu yang bagus dengan cita rasa istimewa tidak bisa dilakukan secara mendadak. Perlu proses belajar. Nah, sekarang adalah saat tepat untuk belajar. Berlatihlah secara tekun tiap hari untuk membuat menu yang nikmat dan standar. Maksudnya…selalu nikmat. Jangan sampai kadang-kadang nikmat kadang kadang tidak nikmat. Ini yang bikin pembeli kapok.

Bagaimana dengan kisah kaledo yang mak nyuuss? Ini adalah pilihan menu. Kalau Anda bisa membuat menu khas kota Anda, warung atau restoran Anda akan menjadi tempat wisata tersendiri. Warung Anda akan menjadi jujugan city tour bagi para pelancong yang datang ke kota Anda kerena berbagai keperluan. Restoran Anda akan menjadi jujugan tamu-tamu berbagai perusahaan yang Ada di kota Anda. Juga akan menjadi jujugan bagi keluarga-keluarga di kota Anda yang kebetulan ditamui para handai taulan di luar kota.

Di Makasar Anda bisa membuat warung coto. Di mataram? Plecing. Madiun? Pecel. Lamongan? Rawon. Manado? Bubur manado!!! Di surabaya, Anda bisa menyediakan menu “bibir surabaya” yang nikmat. Tentu saja tidak ada orang yang bibirnya mau dimasak. Dan sudah barang tentu tidak akan ada orang yang mau membelinya. Yaa…maksud saya adalah bibir sapi yang biasa disebut cingur atau congor. Buatlah warung rujak cingur, tahu campur, atau sejenisnya yang khas. Kaledo-Palu, pecel-Madiun, plecing-Mataram, soto-Lamongan, Bubur-Manado, Bibir-Surabaya….bagaimana?

Iman Supriyono ( imansupri@snfconsulting.com )

Managing Partner SNF Consulting

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *